Oleh: fkirabbani | Agustus 31, 2007

MANAJEMEN PENANTIAN

Ada yang bilang kalo ’ngaret’ adalah cira khas aktivis dakwah kampus. Bukan bermaksud pesimis, tetapi, entahlah kebetulan…Jarang sekali rasanya..atau bahkan tidak pernah kita menemukan acara-acara yang diangkatkan oleh para aktivis dakwah kampus yang ontime, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Entah itu acara intern maupun ekstern, sama saja, selalu saja molor setengah jam atau lebih. Seolah – olah telah ada suatu kesepakatan yang tidak pernah tertulis antara ikhwah::, kalo acara di jadwalkan pukul 08.00 di dalam undangan, berarti mulainya pukul 09.00,jadi nggak usah datang pukul 08.00 ntar pukul 09.00 saja!! baru berangkat, lagian itu juga baru pembukaan…. pikiran-pikiran seperti ini membuat kita tidak pernah bisa untuk tepat waktu,  kita semua telah menjadwalkan diri untuk berlambat-lambat..

                Saya rasa sudah sangat sering, ikhwah mendapatkan materi tentang Manajemen Waktu, tentang kedisiplinan atau tentang urgensinya waktu. Tapi kenapa masih sering saja terlambat?? jawaban yang mungkin untuk kondisi itu adalah, karena kita hanya sekedar mendapatkan materi, tapi tidak mau untuk berpraktek.. Hingga jadilah kebiasaan tidak tepat waktu menjadi hal yang tidak perlu disikapi secara serius bagi ikhwah,  Mungkin karena semua sudah seperti itu, hingga jadilah ia sebuah kewajaran. Kewajaran yang tidak wajar, kewajaran yang mematikan.. karena kita lebih banyak BASIPAKAK SE, ndak nio di sabuik, jan talambek juo!!!!!!!!!

                Orang paling dirugikan oleh tindakan ikhwah yang suka telat adalah mereka yang datang duluan, orang-orang yang mau tidak mau harus berlama-lama menunggu, duduk sendirian dan bersusaha untuk tetap husnudzon terhadap saudaranya yang belum datang sambil miscall berkali-kali.

                Menunggu memang pekerjaan yang membosankan, waktu seolah berputar begitu lambat. Mungkin sulit untuk berharap agar ikhwah kita segera datang, yang perlu dilakukan adalah memanajemen waktu yang kita gunakan untuk menunggu; manajemen penantian.

                Dulu saya memang sangat bosan sekali ketika harus menunggu, tapi sekarang tidak. Banyak hal sebenarnya yang bisa kita lakukan ketika harus menunggu.

                Pertama, bagi yang acaranya atau rapatnya di mesjid, bisa untuk shalat sunat duluan. Kalo acaranya di gedung biasanya di sana ada mushalla untuk shalat, maka lebih baik shalat dari pada bengong, jiwapun akan lebih tenang.

Kedua, kita bisa membaca Alquran, saya yakin ikhwah itu kemana-mana selalu bawa alquran kecuali ke WC ya. Nah Alquran itu jangan hanya jadi pemberat tas, baca dan tadabburilah beberapa ayat sampai yang ditunggu datang, Kan bagus kalo yang ditunggu ngggak datang, kita bisa khatam.

Ketiga, kita juga bisa menambah hafalan, Jangan bangga deh kalo udah hafal juz 30 masih ada 29 juz lagi. Maka manfaatkan moment menunggu untuk menambah hafalan. Bagi akhwat yang berhalangan, kan nggak boleh megang Alquran tuh, bisa untuk muraja’ah ( mengulang hafalannya ).

Keempat, Membaca buku, entah itu buku pelajaran, diktat atau buku-buku lain yang pasti akan menambah pengetahuan kita.

Kelima, mengerjakan tugas-tugas kuliah atau tugas-tugas ringan yang lainnya.

Keenam, bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan hobinya, bagi yang hobi menulis silahkan menulis. Bagi yang suka menggambar silahkan menggambar. Sebelum acara atau rapat dimulai kita telah melahirkan satu karya, mana tahu ada ikhwah yang mau beli atau punya kenalan seorang penerbit yang bersedia menerbitkan tulisan yang kita buat. Tapi kalo yang hobi tidur.., gimana ya, lebih baik nggak usah dilakukan

                 Ternyata banyak hal positif yang bisa kita lakukan ketika kita harus menunggu. Bisa khatam, hafidz, menyelesaikan tugas dan lain-lain. Mungkin kita tidak perlu lagi sewot pada mereka yang sering terlambat karena insyaallah dengan keterlambatan mereka kita bisa meningkatkan kapasitas diri. Maka berterima kasihlah pada ikhwah yang sering telat.

                Tapi tetap ini bukanlah sebuah pembenaran atas keterlambatan-keterlambatan yang masih sering kita lakukan. Silahkan mengevaluasi diri bagi mereka yang masih tidak pernah bisa ontime. Tepat waktu adalah indikator keimanan, kalau masih sering tidak tepat waktu, sebuah pertanyaan bagi kualitas keimanan kita

 


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.