Oleh: fkirabbani | Agustus 31, 2007

tidak butuh?

KITA TIDAK BUTUH MUWASHOFAT KADER
SEPULUH slogan NOL implementasi

kami adalah panah-panah terbujur

kami adalah pedang-pedang terhunus

kami adalah tombak-tombak berjajar

kami adalah butir-butir peluru

kami adalah mata pena yang tajam

seperti elang kami melayang

seperti air kami mengalir

seperti matahari kami berputar

seperti gunung kami merenung.
Kebangkitan umat adalah sebuah cita-cita besar bagi kita semua. Tentunya untuk mempersiapkan kondisi kebangkitan itu di butuhkan orang-orang yang mampu dan kuat untuk mewujudkannya. Jangan pernah bermimpi jika dengan persiapan yang seadanya kita akan bisa mewujudkan kebangkitan umat. Cita-cita besar butuh persiapan besar. Persiapan yang kecil dan seadanya hanya untuk karya-karya yang juga kecil bahkan sangat kecil.

Kader sejati sangat dibutuhkan dalam mempersiapkan dan mengusung kebangkitan ummat. Bukan setiap orang tentunya yang bisa mewujudkannya, tetapi hanya mereka yang telah memenuhi muwashofat, mereka yang telah memilki dan mengamalkan apa yang kita namakan sebagai karakter kader sejati.

Berbicara tentang muwashafat kader sebenarnya kita telah lama mengenalnya, bukan baru tadi atau kemaren sore, untuk ukuran sebuah waktu pembelajaran kita telah lama sekali mengenal itu semua. Sebagian kita mungkin mengenalnya ketika awal memasuki forum atau mungkin bagi sebagian lain telah tahu itu sejak aktif di da’wah sekolah. Kita mengenal berbagai karakter ada shalimul aqidah, shahihul ibadah, matinul khuluq, mutsaqaful fikri, gadirun ’alal kasbi, haritsun ’ala waqtihi, munazham fi syu;unihi, mujahidu linafsihi dan nafiun lighairihi.

Ketika kita mencoba menghubungkan antara muwashafat dengan suatu tujuan untuk kebangkitan ummat, ternyata untuk mewujudkan kebangkitan ummat kita tidak membutuhkan muwashofat kader, yang kita butuhkan adalah kader yang memenuhi muwashofat. Kita tidak butuh karakter kader untuk mempersiapkan kebangkitan ummat, yang kita perlukan itu sebenarnya adalah kader yang berkarakter. Karena kalau hari ini kita masih sibuk dengan persoalan karakter kader, maka wacana yang muncul hanya baru sebatas konsep bagaimana seorang kader ideal yang diharapkan ummat. Tetapi ketika kita berbicara tentang kader berkarakter maka berarti kita berbicara tentang kader-kader yang telah memenuhi muwashofat, otomatis di dalamnya kita telah berbicara tentang muwashafat itu sendiri.

Kebangkitan ummat yang diharapkan akan sulit terwujud jika kader yang ada masih menjadikan muwashofat sebagai pengetahuan saja, sesuatu yang hanya ditulis di buku-buku, di cantumkan di agenda-agenda rapat, diketik kemudian di tempel di dinding kamar agar ketika ada yang melihat dianggap sebagai kader yang militan. Kebangkitan ummat yang menjadi cita-cita besar itu akan makin jauh, jika muwashofat hanya menjadi slogan-slogan tanpa implementasi.

Maka agar kebangkitan ummat itu terwujud, Dibutuhkan kesungguhan dari setiap kita untuk memperbaiki kapasitas diri. Mengamalkan dengan sungguh-sungguh apa yang telah diketahui, tentunya tidak separo-separo, harus semua. Agar kader yang terbentuk juga kader yang unggul.

Tetapi untuk melahirkan seorang kader yang memenuhi karakter yang diharapkan cukuplah sulit. Bukan karena banyaknya muwashafat yang harus dipenuhi, bukan pula karena muwashafat yang ada terlalu berat. Tetapi lebih kepada dimana bagi sebagian ikhwah memandang muwashofat sebagai beban, sesuatu yang harus dipenuhi hanya karena terpaksa. Sebagian kita atau malah keseluruhan dari kita merujuknya menjadi suatu target pencapaian yang berat.

Sementara para sahabat Rasulullah SAW memandang muwashofat sebagi ciri mereka. Mereka merujuknya sebagi keutamaan diantara yang lainnya. Itu jua sebabnya mengapa para sahabat mengembangkan model amal unggulan pada setiap diri mereka.

Muwashafat ketika hanya menjadi beban maka sangat sulit akan membentuik diri seseorang menjadi kader sejati. Karena pemenuhannya terhadap muwashofat yang ada hanya teruji ketika berhadapan dengan murabbinya, ikhwah lain atau didepan petinggi jamaah saja. Padahal karakter yang diharapkan adalah karakter yang benar-benar melekat pada diri seseorang, terpatri di dirinya sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun.

Muwashofat tidak di ukur hanya dari kuantitas dan kualitas saja. Tetapi juga dihitung dari kesiapan, kesigapan dan totalitas dalam mengenban amanah da’wah.

Maka saat ini bukan masanya lagi bagi kita berbicara dan menjelaskan panjang lebar tentang karakter kader sejati. Sekarang masanya pembuktian, tidak hanya sebatas pengetahuan, tidak hanya sebatas hafalan.

Sekarang adalah waktunya untuk melakukan pertunjukan, bukan lagi waktu untuk menghafal naskah…sehingga kebangkitan ummat itu akan semakin dekat.

Wallahu’alam bish shawwab.


Tanggapan

  1. mmm….memang sudah saatnya kita merenungi kembali cita-cita mulia dakwah ini..yang jelas tidak butuh basa basi…yang pasti tidak mengutamakan formalitas…yang insya Alloh amat mulia dna barokah ini…

    yuuk..revolusi diri…

  2. antum: mmm….memang sudah saatnya kita merenungi kembali cita-cita mulia dakwah ini..
    reply: saya butuh jawaban dan ga’ sedang lagi dwhin antum.

    antum: yang jelas tidak butuh basa basi…
    reply: antum salah lagi.. permasalahannya bukan basi-basi ato ga’ tetapi syar’i ato ga.. ok coy

    antum: yang pasti tidak mengutamakan formalitas…ang insya Alloh amat mulia dna barokah ini…
    replay: apapun perlu formalitas kawan.. ambil contoh
    undang-undang pornografi udah 10 tahun diperjuangkan.. untuk apa ya untuk diformalitaskan.. antum fikirkan lagi deh!
    dan lagi..Espepe anak 07 berkisaran 750.ribu apakah diminta saja ke ato ada surat keputusannya.. ?

    antum: yuuk..revolusi diri…
    replay : sya ga’ bicara revolusi ato ga’
    tapi mikir.. masa hari gini masih lugu aja..
    tapi dri tulisan diatas kebangitan apa yang ditawarkan
    contoh dlm ekonomi, kalo Rml dri ekonomi tolong tawarkan permasalahan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan [baik diri sendiri ato masy] apakah terletak pada distribusi, produksi, apa?

  3. yan, kayaknya saudara adi komennya bukan utk komen ana..tp untuk tulisan antum…:-)

  4. Asw.
    Kok berantem di blog sich…

  5. assalamu’alaikum wr wb

    lam kenal dari ana

    afwan ana nimbrung disini

    lam ukhuwah dari ana dari USU

    sebuah muhasabah bagi para kader semua

    karena saat ini kuantitas begitu banyak tanpa di barengi dengan kualitas

    bisakan kita melakukan akselerasi kualitas???

    ana yakin bisa…

    jika manajemennya bagus :)

    tetap semangat!!!

    wassalamu’alaikum wr wb

  6. easy brow.. romel isinya bukan kritisin sapa sapa ko, itu kan doa, jangan terlalu galak2 sama sodara.. mending sikat mah musuh dakwah!


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.